Jumat, 20 Desember 2013

Keris Curi Perhatian di Milan

London, Inggris - Keris, warisan budaya dunia dari Indonesia menjadi topik bahasan hangat lebih dari 70 kolektor dan pecinta keris dalam sebuah seminar bertempat di Museum Seni dan Ilmu Pengetahuan Milan, Italia.

Seminar yang bertema "Tidak Hanya Sekedar Senjata: Sekala, Dunia Nyata Keris" menghadirkan dua kolektor keris kondang di Italia sebagai pembicara, yaitu Dr. Sandro Forgiarini dan Dr. Marco Noris, demikian keterangan dari Penerangan, Sosial dan Kebudayaan (Pensosbud) Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Roma yang diterima ANTARA London, Sabtu.

Menurut Sandro Forgiarini, seorang dokter forensik, proses pembuatan keris oleh seorang empu keris hanya ada di Indonesia.

"Keris itu unik, dan hanya ada di Indonesia," demikian Forgiarini.

Adapun Marco Noris mengulas mengenai penyebaran keris di wilayah Nusantara, dan karakteristik khusus dari hulu (pegangan keris) dan warangka (sarung keris) dari tiap-tiap daerah di Indonesia.

Seminar menjadi lebih berbobot dengan hadirnya kurator dan kolektor keris ternama dari Perancis, Dr. Jean Greffioz, pengarang buku "Kris: the Passion of Indonesia".

Jean Greffioz menyatakan, keris diakui dunia meskipun pada masa sekarang pembuatannya pun masih menggunakan cara-cara yang sangat tradisional.

Dikatakannya, bentuk dan karakteristik keris dapat menunjukkan dari daerah mana keris itu berasal.

Wakil Duta Besar Republik Indonesia di Roma, Priyo Iswanto, menyampaikan bahwa seminar tersebut merupakan bentuk kontribusi nyata bagi para pecinta keris untuk membangkitkan kesadaran terhadap pentingnya pelestarian keris.

Keris sebagai warisan budaya dunia yang berasal dari Indonesia dan warisan para empu merasa sangat terhormat dengan adanya seminar ini, ujarnya.

Seminar tentang keris akan digelar kembali pada tanggal 24 November 2013 di tempat yang sama dengan menghadirkan pembicara dan kurator yang berbeda.

Acara itu merupakan kerja sama KBRI di Roma dan Pusat Kebudayaan Italia-Asia, serta Museum Seni dan Ilmu di Milan, diprakasai Dr. Vanna Scholari, seorang kolektor dan penulis benda-benda seni Indonesia di Italia.

Sumber: http://www.antaranews.com


Artikel Terkait:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

JANGAN LUPA BERKOMENTAR DAN UNGKAPKAN PENDAPAT ANDA TENTANG ARTIKEL INI.

NO SARA
NO PORNOGRAFI
NO SPAM
NO LINK ON
NO LINK OFF

JANGAN LUPA UNTUK SELALU MEMBAGIKAN ARTIKEL INI KE JEJARING SOSIAL YANG ANDA SUKA YA :)

Pesan Untuk Pengunjung

Jangan lupa sholat, beramal sholeh, dan zakat - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - Ilmu tidak bisa di dapat dengan badan yang santai

link otomatis