Minggu, 15 Desember 2013

NELAYAN SERAKAH

D
i sebuah desa terdapat sebuah sungai yang lebar dan panjang. Didekat sungai itu hiduplah seorang seorang nelayan dan isterinya dan anaknya. Mereka tinggal tidak jauh dari sungai itu.
Keluarga nelayan itu tergolong keluarga miskin. Setiap hari sang ayah hanya menggantungkan hidupnya dari menangkap ikan. Kadang kadang mujur, tetapi ada kalanya sehari penuh tidak mendapat seekor ikan pun.
Pada suatu pagi, nelayan itu pergi memancing ke sungai. Ia membawa 2 buah pancing. Hal ini dilakukan untuk menjaga jika pancingnya putus, ia dapat menggunakan pancing satunya.
Ia mendayung perahunya  hingga di pusat sungai. Setelah pancing itu diberi umpan, pancing itu diulurkan ke air dan ia menunggu pancingnya ditarik oleh ikan. Matahari telah tinggi, namun tidak seekor ikan pun yang ia dapat. Akan tetapi nelayan itu tidak putus asa. Telah beberapa kali ia berpindah tempat di sungai itu, tetapi keadaanya sama saja. Nelayan itu telah bertekad bahwa jika ia pulang ke rumah, ia harus membawa ikan untuk anak istrinya.
Namun tiba tiba ada kawat yang menyangkut di perahunya, Ia mengambil kawat itu dan ia pun mengetahui  kalau kawat itu adalah kawat emas. Ia lalu menarik kawat itu. Hingga beberapa gulung kawat ia merasa belum cukup juga. Padahal kalau ia mau bersyukur kawat yang telah ia ambil  saja sudah cukup menghidupi keluarganya. Dan ia juga tidak akan menjadi miskin lagi. Namun sifat serakah telah merasuki dirinya. Ia pun ingin menjadi orang yang paling kaya.
“Ah... panjang sekali kawat ini, aku akan menjadi orang terkaya didunia jika terus menarik kawat ini”pikir si nelayan. Ia terus menarik kawat itu tanpa menghiraukan hari semakin gelap. Sampannya telah penuh dengan gulungan kawat emas itu. Ia terus menarik dan kawat itu tidak habis habis.
Dari dalam air terdengar suara “ Sudaaaaaaaaaaaaah,sudahlah, potong saja kawatnya” Namun  nelayan itu pun tidak menghiraukannya. Ia terus menarik kawat itu karena ingin menjadi cepat kaya.
Terdengar lagi suara dari dalam air memperingatkan kedua kalinya “Potoooooooooooooong, potong sajaaaaaaaa........!!!!”
“Berhentiiiiiiiiiii,jangan teruskaaaaaaan....!!!!!!!”
Akan tetapi nelayan itu tetap tidak peduli. Karena perahu nelayan itu sudah terlalu penuh dengan kawat emas itu maka air pun masuk kedalam perahu si nelayan itu.
Si nelayan yang telah menjadi rakus tetap belum berhenti menarik kawat. Sementara itu air perlahan lahan masuk ke perahunya. Nelayan itu baru sadar ketika air telah benar benar memenuhi perahunya. Namun terlambat, seketika perahu dan nelayan itu masuk kedalam air atau tenggelam seketika.

Nelayan itu tidak pernah timbul, ia mati didasar sungai akibat keserakahannya yang berlebihan.

Selesai


!Amanat :
J Jadilah orang yang tidak serakah,( dalam kalimat “Hingga beberapa gulung kawat, ia merasa belum cukup juga. Padahal kalau ia mau bersyukur kawat yang telah ia ambil  saja sudah cukup menghidupi keluarganya.”)
 J Menurutlah pada perintah seseorang ketika perintah itu masih benar.
( dalam kalimat “Dari dalam air terdengar suara “ Sudaaaaaaaaaaaaah,sudahlah, potong saja kawatnya” Namun  nelayan itu pun tidak menghiraukannya”)
!Tokoh : nelayan
!Tema : keserakahan
!Latar :
J Tempat : sungai ( dalam kalimat “Pada suatu pagi, nelayan itu pergi memancing kesungai.”)
J Waktu : Pagi hari ( dalam kalimat “Pada suatu pagi, nelayan itu pergi memancing ke sungai.”)
!Watak : Nelayan : serakah

sumber http://infomamat.blogspot.com/2012/11/cerita-pendek-berjudul-nelayan-serakah.html


Artikel Terkait:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

JANGAN LUPA BERKOMENTAR DAN UNGKAPKAN PENDAPAT ANDA TENTANG ARTIKEL INI.

NO SARA
NO PORNOGRAFI
NO SPAM
NO LINK ON
NO LINK OFF

JANGAN LUPA UNTUK SELALU MEMBAGIKAN ARTIKEL INI KE JEJARING SOSIAL YANG ANDA SUKA YA :)

Pesan Untuk Pengunjung

Jangan lupa sholat, beramal sholeh, dan zakat - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - Ilmu tidak bisa di dapat dengan badan yang santai

link otomatis