Bab 1
Boleh Nyontek Asal Bayar
“Simpan dulu
bukumu atuh, Nisa. Memangnya semalaman kamu belajar kurang cukup, ya?” usik Bu
Ramli di meja makan saat sarapan.
Nisa
menyimpan buku di tangannya itu ke sisi piring nasi gorengnya.
“Kasihan
dikit dong sama Ibu. Pagi-pagi sudah
komat-kamit baca mantra biar nasi gorengnya sedap,” tambah Pak Ramli setelah menyuap sesendok nasi ke
mulutnya.
Nisa
memandang ayahnya sesaat. Ia tersenyum kecil. “Wah, Ayah, kumisnya berfungsi
ganda. Bisa buat saringan nasi goreng segala,” ledek Nisa.
Pak Ramli
buru-buru mengusap kumisnya.
“Ayah pasti
sengaja nyisain di kumis. Buat bekal di kantor nanti,” timpal Faris, kakak Nisa
yang duduk di bangku satu SMU.
“Euleu-euleuh,
Mana cukup! Ayah mah makannya nggak boleh kurang dari sepiring,” sahut Bu Ramli
dengan logat sundanya yang kental. Ia mengalihkan perhatiannya ke Nisa. “Nisa,
biarpun kamu simpan, bukan berarti kamu teh bisa membacanya sambil makan!”
Ups!
Nisa menggeser buku bacaan IPS itu lebih
jauh. “Hari ini ulangan pertama Nisa di kelas baru. Nisa nggak mau nilai
ulangan nanti jelek. Akan Nisa buktikan biarpun Nisa pindahan dari Bandung,
nggak kalah pintar sama anak-anak Jakarta,” ujarnya.
Keluarga Pak
Ramli memang baru seminggu pindah dari Bandung. Tepatnya di daerah utara kota Jakarta. Mereka harus pindah karena Pak
Ramli mendapatkan promosi jabatan dari kantornya, dari kepala cabang jadi wakil
direktur di kantor pusat di sebuah rumah sakit swasta.
Setelah acara
sarapan pagi beres, Nisa ikut berpamitan pada ibunya. “Ngomong-ngomong kalung
Ibu sudah ketemu belum?”
Wajah Bu
Ramli yang tadi ceria kembali kusam. Nisa jadi merasa bersalah menanyakannya.
Padahal menurut Nisa ibunya tak perlu semurung itu kehilangan kalungnya saat
pindah rumah. Itu cuma kalung imitasi dengan liontin dari kaca. Bisa kok dicari
gantinya di toko dengan harga murah. Tapi Bu ramli bersikukuh harus menemukan
kalung kesayangannya itu. Ada-ada saja memang!
Pak Ramli
mengantar Nisa lebih dulu ke sekolah dengan mobilnya. Lagi-lagi Nisa sibuk
dengan bahan ulangannya di dalam mobil. Bahkan ketika turun di depan gerbang
sekolah, ia berjalan sambil membaca buku di tangannya.
“Aduh,
rajinnya teman baruku! Kamu mau ulangan atau tes jadi astronot?” sapa Mila, teman sebangku Nisa yang mencegat di
pintu kelas.
“Kamu sih
enak sudah banyak yang hapal,” timpal Nisa sambil masuk kelas.
“Siapa
bilang? Aku cuma nggak mau terlalu ngotot belajar. Kata Bu Miftah, ulangan hari
ini soalnya pilihan ganda.”











