Sabtu, 04 Januari 2014

Hak Sukses

Dalam berbagai kesempatan, saya selalu mengatakan, bahwa “sukses adalah hak kita semua, hak Anda, dan hak siapa saja yang menyadari, menginginkan, dan memperjuangkan dengan sepenuh hati”. Banyak yang kemudian bertanya, bagaimana bisa sukses adalah hak setiap orang, tapi yang terjadi banyak orang yang tidak sukses dalam hidupnya?


Pertanyaan semacam itu sebenarnya adalah sebuah pertanyaan dan sekaligus pernyataan, sebab jika dikaji lebih jauh, orang yang—dianggap—tidak sukses pun sebenarnya memiliki “derajat” kesuksesannya sendiri-sendiri. Hanya saja, tergantung dari sudut pandang mana seseorang membandingkan tingkat kesuksesan tersebut. Ada kalanya, yang jadi pembanding adalah ukuran yang salah. Artinya, sampai kapan pun, ukuran itu tak akan pernah dicapai karena yang dibandingkan tidak sekelas. Misalnya, bercita-cita menjadi seperti Bill Gates sebagai ukuran suksesnya, tentu akan sangat jauh untuk dicapai. Bukan tidak mungkin tercapai. Tapi, skala ukuran sukses inilah yang seharusnya sedari awal kita mulai dari hal yang sebanding terlebih dahulu.

Karena itu, bermimpi boleh. Bercita-cita sangat tinggi juga bisa. Tapi, yang harus diperhatikan adalah langkah awal kita. Justru, di sanalah kita menjaga ritme dan kontinuitas, sehingga dari sukses-sukses kecil, kita akan terus melangkah ke yang lebih besar. Begitu seterusnya, sehingga tanpa terasa, impian yang dulu terasa sangat besar, bisa tercapai.

Dengan pengertian tersebut, maka sebenarnya kita sudah bisa mengukur, di mana hak sukses yang “pantas” kita dapat saat ini. Bagi yang sedang merintis, jangan buru-buru mengatakan tidak sukses kalau menghadapi kegagalan baru sekali tiga kali. Sebaliknya, saat ternyata langsung bisa sukses, jangan buru-buru pula jumawa dan tinggi hati. Sebab, langkah menuju sukses yang lebih besar bisa jadi akan lebih berat. Dengan kesadaran itulah, maka saat kita ingin mendapat hak sukses kita, setiap yang kita lakukan dengan memenuhi kewajiban—berjuang dengan sepenuh hati—akan menjadi “paket” yang tak bisa dipisahkan.

Di sinilah konsep hak dan kewajiban menjadi sebuah rangkaian yang akan membuat kita selalu sadar, sukses memang tak bisa dipisahkan dari perjuangan. Begitu juga keberhasilan, tak kan bisa dipisahkan dengan ujian kehidupan. Begitu seterusnya, saling berangkaian, saling berkejaran, saling berkaitan.

Mari, kita “jemput” hak sukses kita. Dengan menyadari, menginginkan, dan memperjuangkan sepenuh hati, perubahan besar akan terjadi. Kita songsong tahun 2014 dengan optimisme dan kerja keras, agar Indonesia jadi luar biasa. Kita pasti bisa!!!


Sekian Artikel dari ILMU 212 semoga dapat bermanfaat bagi para pembacanya. dan saya selalu berharap bahwa Artikel yang saya Postkan ini dapat berguna bagi semua orang Amin.

sampai jumpa lagi di Artikel Berikutnya. 



Artikel Terkait:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

JANGAN LUPA BERKOMENTAR DAN UNGKAPKAN PENDAPAT ANDA TENTANG ARTIKEL INI.

NO SARA
NO PORNOGRAFI
NO SPAM
NO LINK ON
NO LINK OFF

JANGAN LUPA UNTUK SELALU MEMBAGIKAN ARTIKEL INI KE JEJARING SOSIAL YANG ANDA SUKA YA :)

Pesan Untuk Pengunjung

Jangan lupa sholat, beramal sholeh, dan zakat - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - Ilmu tidak bisa di dapat dengan badan yang santai

link otomatis