Selasa, 25 September 2012

Bitumman: Biji Tumbuh Mandiri Karya BPPT


Pertambangan tidak hanya membinasakan keanekaragaman tanaman di hutan, namun juga mengelupas tanah sampai miskin hara. Untuk menumbuhkan biji-biji tanaman di hutan rusak, Agus Kristijono merekayasa Bitumman, yaitu biji tumbuh mandiri hasil simbiosis mikoriza abuskular dan bakteri rizosfer.

Mikoriza abuskular adalah jamur yang banyak terdapat di akar pohon pinus dengan ikutannya bakteri rizosfer. “Tanpa mikoriza, akar yang mulai tumbuh dari biji-bijian akan sulit mengambil nitrogen dan fosfor untuk pertumbuhan,” kata Agus, perekayasa utama pada Pusat Teknologi Sumber Daya Lahan, Wilayah, dan Mitigasi Bencana Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT).
Mikoriza memiliki keunikan, yaitu akan tumbuh dengan baik justru di lahan yang kurang atau sama sekali tidak subur, misalnya lahan-lahan bekas tambang.

Ketiadaan hara memicu mikoriza tumbuh optimal untuk mengikat nitrogen dan fosfor sebanyak-banyaknya dari atmosfer. Di lahan yang subur, mikoriza justru malas bekerja.
Sistem pertahanan hidup mikoriza seperti itu dimanfaatkan Agus untuk memodifikasi bibit tanaman revegetasi yang bertujuan menghutankan kembali lahan rusak. Kegiatan risetnya berlangsung tahun 2009-2011.
Hasil uji cobanya dievaluasi pada tahun 2012. Biji tumbuh mandiri dengan label merek Bitumman ini diuji di lahan bekas tambang batubara di Kalimantan Timur dan lahan bekas tambang nikel di Sulawesi Tenggara.
Bitumman dicoba dirakit dari beberapa biji tanaman, di antaranya biji akasia dan albizia, yang pada usia 18 bulan mampu tumbuh di atas rata-rata. Pada tahun 2013 akan dimulai riset dan pengembangan untuk metode aeroseeding, yakni penebaran Bitumman dengan pesawat terbang.
”Aeroseeding mempersyaratkan kemasan Bitumman lebih tahan benturan agar formulanya tetap aman ketika dijatuhkan ke tanah dari pesawat udara,” kata Agus.
Briket sabut kelapa
Bitumman berisikan biji tanaman dilapisi biofertilizer mengandung mikoriza abuskular dan bakteri rizosfer yang diletakkan dalam briket sabut kelapa. Briket ini menjadi media tanam sekaligus penyimpan cadangan air.
”Dari percobaan kami juga digunakan briket gambut dari Rawa Pening di Jawa Tengah. Tetapi, briket sabut kelapa mampu lebih banyak menyimpan air,” lanjut Agus.
Briket sabut kelapa (cocopeat), menurut dia, sebaiknya menggunakan limbah sabut kelapa. Saat ini, sabut kelapa diolah industri untuk dimanfaatkan seratnya. Serat itu digunakan untuk berbagai keperluan, seperti tali, serta memperkuat struktur lapisan tanah.
Briket sabut kelapa memanfaatkan remah-remah serat. Dari hasil penelitian, dalam jangka waktu 48 jam, briket sabut kelapa mampu menyimpan air hingga 3,8 mililiter per gram dengan kemampuan daya simpan awal 3,4 mililiter per gram.
Ketersediaan cadangan air dari media tanam ini merangsang perkecambahan biji tanaman di dalamnya. Mikoriza kemudian bersimbiosis dengan akar yang mulai tumbuh.
Memupuk sendiri
Agus mengatakan, pada prinsipnya inovasi Bitumman merupakan upaya pemupukan sendiri oleh tanaman yang akan tumbuh. Mikoriza menggunakan medium akar untuk pertumbuhannya.
Mikoriza mengikat nitrogen dari atmosfer, nitrogen dimanfaatkan tanaman untuk tumbuh. Penyerapan nitrogen melalui akar yang ditumpangi mikoriza tersebut.
Biofertilizer yang mengandung fosfor diurai bakteri rizosfer. Penguraian fosfor ini bermanfaat memberikan makanan bagi tanaman.
”Dari hasil uji tanam Bitumman dengan biji albizia, pada usia enam bulan sudah mencapai tinggi 1,5 meter. Ketika mencapai usia 18 bulan sudah setinggi 4 meter. Ini di atas rata-rata normal,” ujar Agus.
Biji tanaman tanpa mikoriza akan sulit tumbuh. Pertumbuhan mikoriza akan bersimbiosis sampai akar menjadi kuat.
Jamur akar ini bisa berpindah ke akar tumbuhan lain. Saat ini, hasil rekayasa Bitumman mulai digalakkan untuk program rehabilitasi atau reklamasi lahan bekas tambang.
Aplikasi Bitumman lebih efisien dibandingkan dengan sistem revegetasi atau reboisasi yang ditempuh selama ini. Briket sabut kelapa dimungkinkan tanpa penyiraman karena mampu menyimpan air.
Dengan demikian, Bitumman lebih tepat ditebar pada saat memasuki musim hujan. Tanaman menjadi tidak perlu penyiraman secara rutin.
”Aeroseeding”
Dengan pengembangan aeroseeding, diharapkan penebaran Bitumman di lahan yang sulit ditempuh makin mudah. Pada tahun 2014, diharapkan metode aeroseeding bisa diuji coba.
Selain menyediakan cadangan air, penggunaan media tanam briket sabut kelapa juga memberikan keuntungan lain. Sabut kelapa memiliki pori-pori yang memungkinkan kondisi tanah di sekitarnya tetap gembur. Hal ini memudahkan pertukaran udara dan masuknya sinar matahari.
Briket sabut kelapa mengandung Trichoderma molds, enzim dari jamur yang mampu mengurangi risiko penyakit dari dalam tanah. Kandungan unsur haranya mencakup kalsium (Ca), magnesium (Mg), kalium (K), natrium (Na), dan fosfor (P).
Pemerintah menetapkan Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 18 Tahun 2008 dan Peraturan Pemerintah Nomor 76 Tahun 2008 yang mengatur kewajiban perusahaan pertambangan melakukan reklamasi, rehabilitasi, dan revegetasi lahan pascatambang.
Jika ada ketidakpatuhan terhadap ketentuan tersebut, pemerintah berhak mencairkan dana deposit yang diserahkan perusahaan sebelum mengawali usaha tambangnya. Dana tersebut harus digunakan untuk memulihkan kembali lahan yang ditambang.
Hasil rekayasa Agus ini mendesak untuk diterapkan di lahan seperti di Kalimantan dan sebagian Sumatera. Kalau tidak, lahan rusak makin menganga dan menebar ancaman bagi kehidupan lingkungan di sekitarnya.


Artikel Terkait: